Gelora Nurani – Arif Novianto

Mencoba mengukir lengkokan tinta-tinta perlawanan untuk menyampaikan segala ketidak-adilan dan memperjuangkan kebenaran

Tag Archives: wayang kulit

Sang Pemikir & Jiwa-jiwa Pemberontak: Membawa Wayang ke Bumi Manusia

Catatan dari Pementasan “Parikesit Jumeneng Ratu” yang dibawakan Oleh Ki Enthus Susmono pada 05 September 2015, Live di lapangan TVRI Jogja

Wayang - Parikesit Jumeneng RatuBaratayudha yang menang pandawa dan yang kalah kurawa secara tertulis memang benar. Itu hanya syariat dan ilmu itu ada tarikat, makrifat,lan Hakikat. Lha saya akan menuju ke hakikatnya langsung saja, yaitu bahwa hakikatnya baratayudha yang menang adalah Kresna. Kresnalah yang telah membuat kebohongan sejarah Barathayuda dan ketahuilah Prabu Pancakusuma, bahwa yang berhak atas tahta Astina itu kamu bukan Parikesit si bocah ingusan yang dikarbit Kresna untuk jadi Raja karena masih keturunan Kresna.

(Kertiwindu – anak dari Sengkuni)

Ditengah dinginnya Jogja, acara pertunjukan Wayang Kulit dalam memperingati Ultah TVRI Jogja malam itu berlangsung cukup meriah. Pertunjukan yang mengambil lakon (cerita) “Parikesit Jumeneng Ratu” dibawakan dengan cukup apik dan berbeda oleh Ki Enthus Susmono, salah seorang dalang favorit saya selain Ki Narto Sabdho, Ki Manteb dan Ki Sigit Arianto. Para penonton dibuat terhenyak dengan alur cerita, guyonan dan juga tak lupa satir-satir yang disematkan dalam setiap dialog antar tokoh.

Read more of this post

Advertisements

Petruk-Jokowi (turun) Jadi Raja

Metro Riau 20 Maret 2014 a petruk jowoki dadi ratu

Doc: Epaper Metro Riau 20 Maret 2014

Joko Widodo atau lebih akrab dipanggil Jokowi, jauh-jauh hari namanya semerbak harum mewangi karena terus menjadi perbincangan hangat di tengah masyarakat, apalagi ketika secara resmi pada 14 maret 2014 ketua umum PDIP Megawati memberikannya mandat kepadanya untuk menjadi calon presiden didalam pemilu 2014 nanti. Dengan elektabilitasnya yang meroket tinggi dibanding para calon pesaingnya seperti yang ditangkap oleh survey dari berbagai lembaga politik, tak pelak membuatnya digadang-gadang akan dengan mutlak memenangkan pilpres pada 09 Juli 2014 nanti.

Bila melihat geliatnya, kisah perjalanan Jokowi ini dapat dielaborasikan dan diforcasting dengan kisah lakon pewayangan, yang berjudul “Petruk Dadi Ratu”. Lakon “petruk dadi ratu” ini sendiri merupakan lakon carangan atau lakon yang tidak berasal dari pakem pewayangan yaitu kitab Ramayana dan Mahabarata, akan tetapi lakon buatan para pujangga jawa.

Simbol Kekecewaan

            Petruk dan Jokowi, merupakan sebuah simbol perlawanan. Dilakon petruk dadi ratu, Petruk yang merupakan perwujudan dari rakyat jelata, berusaha untuk menentang para penguasa yang tidak sedikitpun memihak mereka. Para penguasa kerajaan Amarta yaitu Pandawa terlalu sibuk mengurusi diri mereka sendiri dan membiarkan rakyatnya dalam penderitaan dan kesengsaraan.

Read more of this post

Distorsi Politik Elitis

Metro Riau 03 Maret 2014

Doc: Epaper Metro Riau 03 Maret 2014

“Sebagian orang hidup dalam kegelapan; segelintir saja yang hidup ditempat yang terang; dan mereka yang hidup di kegelapan tetap tak bisa terlihat” untain bait tersebut adalah puisi dari Bertold Brecht yang dikutip oleh Wertheim dalam bukunya berjudul “Elite vs Massa”(2009). Wertheim berusaha menjelaskan tentang bagaimana elitisme telah mengungkung dinamika pemerintahan serta kajian-kajian sosiologis di Indonesia selama ini.

Sistem sosial politik di Indonesia sekarang pun masih tetap berwatak elitis (karena dibuat dengan cara elitis juga). Kita dapat melihatnya didalam sistem kontestasi politik yang sangat begitu mahal sekarang ini. Artinya seseorang untuk dapat memenangkan pemilihan umum harus menggelontorkan biaya yang tak sedikit, baik untuk kampanye dan politik uang, kecuali orang tersebut memang telah membangun basis masa lewat akitivismenya dalam waktu yang lama. Sehingga untuk menjadi pemimpin diperlukan biaya yang besar dan hal tersebutlah yang dimiliki oleh para elit. Sedangkan rakyat kecil hanya dijadikan batu loncatan untuk menegaskan para elit tersebut di pemerintahan.

Read more of this post

Wayang Kontenporer vs Budaya Pop

Metro Riau 10 Februari 2014

Doc: Epaper Metro Riau 10 Februari 2014

Wayang merupakan budaya adiluhung bangsa Indonesia yang telah diakui oleh UNESCO sebagai karya agung dunia non bendawi pada 7 november 2003. Didalam setiap pagelaran wayang ini menyiratkan nilai-nilai estetik yang begitu tinggi dengan filosofi dan mitologi jawa yang kental sekali. Artinya wayang merupakan mahakarya besar yang pernah diciptakan oleh nenek moyang kita ini.

Namun seiring berkembangnya jaman, wayang sebagai budaya lambang identitas bangsa ini mulai kehilangan peminatnya. Ungkapan bahwa wayang adalah pertunjukan yang ketinggalan jaman, membosankan karena lakonnya itu-itu saja serta pergelarannya yang lama telah membuat wayang seolah berada pada titik terendahnya. Padahal tak dapat dipungkiri bahwa didalam setiap pertunjukan wayang, selalu menyiratkan pesan-pesan moral, sosial dan politik yang berbalut tentang contoh ketauladanan kehidupan.

Read more of this post