Gelora Nurani – Arif Novianto

Mencoba mengukir lengkokan tinta-tinta perlawanan untuk menyampaikan segala ketidak-adilan dan memperjuangkan kebenaran

Jejak Langkah Indonesia Hadir di Bumi Manusia: Pramoedya & Embrio Kebangsaan

Judul: Indonesia Tidak Hadir di Bumi Manusia: Pramoedya, Sejarah, dan Politik
Penulis: Max Lane
Penerbit: Penerbit Djaman Baroe, xii + 196 hlm, 2017

Salah jika Indonesia sebagai bangsa tidak hadir di Bumi Manusia. Novel Tetralogi Buru (Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, & Rumah Kaca) adalah laboratorium yang menggambarkan pergulatan rakyat Indonesia membangun apa yang disebut sebagai nasion atau bangsa.

Kata “Indonesia” memang tidak ada dalam sekitar 2.000 halaman novel kebangkitan nasional itu. Namun, itu adalah kehebatan Pram sebagai penulis. Secara sadar dia menunjukan bahwa Indonesia sebagai bangsa bukan hadir akibat proses alamiah. Entitas bangsa itu dibentuk untuk mencapai proses revolusi sosial melalui berbagai perjuangan dan tetesan darah. Sebuah proses pembentukan struktur sosial yang benar-benar baru yang pada perkembangannya diberi nama “Indonesia”. Bagaimana pembentukan Indonesia sebagai bangsa? Mengapa jejak langkah Indonesia hadir di Bumi Manusia? Apa yang membedakan analisa Pram tentang sejarah pergerakan sosial Indonesia dibanding analis yang lain? Apa yang membuat embrio bangsa Indonesia luluh lantak pada era kekuasaan Soeharto? Apa peran penting karya-karya Pram pada konteks sekarang?

Kesadaran Politik Baru

Clifford Geertz pernah mengungkapkan bahwa kebangsaan Indonesia merefleksikan kesatuan dalam keragaman serta kebaruan dalam kesilaman. “Indonesia ibarat anggur tua dalam botol baru, alias gugusan masyarakat lama dalam negara baru” tulis Clifford Geertz[1]. Dia kemudian menceritakan tentang keragaman tiga ratus etnik, dengan dua ratus lima puluh bahasa, perbedaan budaya, kepercayaan agama, hingga cara hidup masyarakat Indonesia.

Clifford Geertz tidak sendiri dalam menjelaskan keragaman di Kepulauan Nusantara, berbagai antropolog juga mengungkapkan hal yang sama. Kebangsaan Indonesia hadir di tengah keragaman tersebut dengan menggunakan perekat “Bhineka Tunggal Ika”. Perbedaan etnik, bahasa, kepercayaan, hingga nilai-norma sosial dari Nusantara disatukan dalam botol baru yang disebut Indonesia. Mereka menggambaran Indonesia sebagai bangsa yang ramah tamah dengan hamparan persawahan hijau seta tata nilai kesopanan a la adat ketimuran. Yudi Latif bahkan menyatakan bahwa Indonesia adalah bangsa majemuk paripurna (par exellence) atau bangsa yang telah selesai[2].

Apakah bangsa Indonesia seperti gambaran cerita di atas? Dan Indonesia adalah bangsa yang paripurna?

Tidak jawabannya. Penjelasan di atas mengalami cacat buta. Mereka mengabaikan aspek penting dalam sejarah perkembangan masyarakat Nusantara yang telah didepolitisasi kekuasaan kolonial selama 350 tahun lebih. Proses hukum alami perkembangan masyarakat dari feodalisme menuju kapitalisme diluluh lantakan penguasa kolonial. Proses revolusi borjuasi yang menghadirkan kapitalisme tidak terjadi di Nusantara. Sistem kapitalisme hadir akibat pecangkokan secara paksa oleh kolonialisme dan imperialisme.

Sebagian besar sistem politik tradisional yang diacu oleh Geertz telah begitu lama redup dan secara signifikan dibentuk kembali atau dikendalikan melalui campur tangan Belanda, Inggris, Spanyol, dan Portugis. Kerajaan-kerajaan di Nusantara ditaklukan dan tata nilai-budaya mereka telah dikikis sesuai kepentingan kuasa modal kolonial. Sistem-sistem kesukuan memiliki struktur baru yang dipaksakan kepada mereka melalui peran aktif ilmuan-ilmuan Belanda yang menuliskan hukum adat pada mereka. Di beberapa tempat dalam Kepulauan Nusantara, komunitas politik asli masih tetap bercokol tapi dinamikanya telah tamat, dan bentuk-bentuk politik serta tradisi-tradisi budaya yang berkaitan dengannya telah dikerdilkan[3].

Keragaman budaya di Nusantara sampai memasukan awal abad ke-20 adalah keragaman kebudayaan yang kalah. Nilai, norma, dan tradisi yang berkembang diintervensi sesuai dengan kepentingan negara kolonial sejak abad ke 16. Kolonialisme yang dilakukan oleh bangsa Eropa menerapkan hukum untuk mengisolasi secara paksa kesadaran politik rakyat agar tidak bertransformasi menjadi kesadaran politik yang baru.

Novel Tetralogi Buru yang ditulis oleh Pramoedya Ananta Toer dengan begitu cerdas menunjukan jejak langkah awal lahirnya embrio Indonesia sebagai bangsa. Dengan berlatar pada masa awal abad ke 20, novel tersebut menampilkan proses awal terbentuknya kesadaran politik baru. Penjelasan Pram tentang proses pergerakan dan lahirnya Indonesia sebagai bangsa sangat berbeda dengan pandangan dari Geertz dan juga antropolog yang lain. Dua karakter utama dalam novel Tetralogi Buru adalah Minke dan Sanikem atau Nyai Ontosoroh.

Dalam novel Bumi Manusia, Minke seorang anak Priyayi yang sekolah di H.B.S menolak tata cara adat Jawa yang dinilai kolot.

“Apa guna belajar ilmu dan pengetahuan Eropa, bergaul dengan orang-orang Eropa, kalau akhirnya toh harus merangkak, beringsut seperti keong dan menyembah seorang raja kecil yang barang kali buta huruf pula! God, God! Menghadap bupati sama dengan bersiap menampung penghinaan tanpa boleh membela diri. Tak pernah aku memaksa orang lain berbuat semacam itu terhadapku. Mengapa harus kulakukan untuk orang lain? Sambar gledek!”[4].

Minke menolak tata cara menyembah, merangkak, merendahkan diri, dan tidak boleh mengkritik dalam adat Jawa. “Orang Jawa sujud berbakti kepada yang lebih tua, lebih berkuasa, satu jalan pada penghujung keluhuran. Orang harus berani mengalah, Gus” ungkap Ibu Minke. “Yang berani mengalah terinjak-injak, Bunda.” Jawabnya.

Minke di Bumi Manusia adalah Minke muda yang begitu mengagumi ilmu-ilmu barat. Sebagai pelajar H.B.S. di sana guru-gurunya banyak bercerita tentang kebesaran peradaban Eropa yang gilang gemilang. Minke remaja dengan usia 17 tahun hadir di tengah perubahan besar dalam perkembangan teknologi di dunia. Rel kereta api bagai rantai yang bertebaran mengerangkeng bumi, komunikasi jarak jauh mulai bisa dilakukan dengan telepon bukan dengan ilmu mistis atau ajimat, dan cerita tentang kapal-kapal yang mampu menyelam di lautan. Minke mengalami paradoks yang begitu besar jika menilik bangsanya yang masih begitu tertinggal.

Sanikem seorang perempuan Jawa yang menjadi gundik pengusaha pabrik gula yaitu Herman Mellema menjadi karakter yang juga memperoleh kesadaran politik baru. Dia dijual Sastrotomo ayahnya yang gila harta dan kuasa agar sang ayah bisa menjadi Juru Bayar pabrik gula di Tulangan. “Secepatnya saja kowe antar anak itu ke tempat saya. Saya janji akan memberi imbalan yang memuaskan kowe: Juru Bayar dan gulden” ungkap Mellema tergiur melihat Sanikem. Setelah menjadi gundik Herman mellema, Sanikem mendapat nama panggilan Nyai Ontosoroh.

Ditengah bimbingan dari Herman Mallema, Nyai Ontosoroh menjadi seorang wanita yang gemar belajar dan membaca. Pengetahuannya bahkan melampaui perempuan-perempuan pribumi dikala itu dan bahkan perempuan eropa sekalipun.

Nyai Ontosoroh merepresentasikan perempuan era baru dalam dekapan budaya patriarki Jawa yang meminggirkan perempuan. Dia mengajarkan ide-ide dan nilai-nilai pencerahan Eropa  kepada minke, yang sebagian telah ia pelajari sendiri, namun juga menunjukan kemunafikan Eropa dalam mengurusi koloni-koloninya (hal. 157)[5].

Nyai Ontosoroh merupakan mertua dari Minke yang waktu itu menikahi Annelies setelah tamat di sekolah H.B.S. Mereka dihadapkan pada realita yang benar-benar mengerikan setelah kematian Herman Mellema. Bukan hanya perusahaan Berderij Buitenzorg yang dirampas oleh sistem hukum Kolonial[6], akan tetapi juga Annelies[7].

Nyai Ontosoroh dan Minke dibuat tidak berkutik dihadapan hukum Kolonial Belanda yang menistakan penduduk pribumi. Mereka kalah dipersidangan. Namun pemberitaan di koran-koran lokal dan berbagai perbincangan atas kasus itu telah banyak menyita perhatian masyarakat Surabaya dan Jawa. Rasa senasib sepenanggungan dihadapan sistem kolonialisme mulai muncul. Dalam setiap persidangan, rakyat berkumpul untuk mencari tahu perkembangan kasus itu.

Begitu juga Darzam, pengawal setia Nyai Ontosoroh, bahkan melakukan konsolidasi dengan rakyat yang marah karena merasa turut dinistakan oleh hukum kolonial Belanda. Mereka berupaya menyerang konvoi aparat Belanda yang dengan paksa membawa Annelies ke pelabuhan untuk dibawa ke negeri Kincir Angin. Namun, Nyai Ontosoroh akhirnya bisa menenangkan Darzam dan rakyat lain yang tengah marah.

Siang itu, matahari yang cerah tetiba meredup terhalangi awan, warna duka menyelimuti rumah Nyai Ontosoroh. Annelies benar-benar telah dirampas bersama harta mereka. Di tengah duka dan lara, Annelies meninggal dalam masa perampasan di Belanda[8]“Kita sudah melawan, Nak, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya” kata Sanikem kepada Minke.

Keberadaan, Pengalaman, dan Kesadaran

Dua karakter paling hebat dalam novel itu adalah Minke dan Nyai Ontosoroh yang terkesan penuh tenaga karena mereka berdua diciptakan sekaligus merefleksikan kesadaran politik baru. Daya tarik mereka bagi para pembaca Indonesia dan para pembaca dunia adalah dari cara mereka melampaui cara berpikir sempit yang biasanya melanda orang-orang dari latar belakang sosial dan geografis mereka (Hal. 12).

Dalam novel Tertralogi Buru, Pram menempatkan karakter tokohnya sebagai manusia biasa yang kesadarannya tidak datang begitu saja. Akan tetapi melewati proses yang nyata, yang dialaminya. Baik Minke atau Nyai Ontosoroh, memiliki tingkat kesadaran yang dibatasi oleh relasi sosial mereka dan tidak bisa dipisahkan dari hubungan mereka dengan dunia global. Itu seperti yang ditulis oleh Karl Marx:

Bukan kesadaran yang utama, tapi keberadaan kita di dunia; bukan pemikiran tapi kehidupan, yang utama adalah perkembangan empirik dan pengejawantahan kehidupan dalam tiap individu – dan semua itu tergantung kondisi dunia[9].

Pengalaman Minke ditempa dari pergulatan hidupnya. Dari pertemuan, dialog, hingga perpisahan. Dari ejekan, hinaan, sanjungan, kritik, pergerakan, dan kerasnya kehidupan. Minke telah belajar dari guru-gurunya yang orang Belanda seperti Magda Peters, Keluarga de la Croix, dan Ter haar. Pada perkembangannya mereka adalah guru yang tidak memadai dan cenderung gagal. Namun para guru tersebut turut membangun kepingan pondasi pemikiran Minke di masa depan.

Begitu juga pertemuan Minke dengan Darsam, Surati, dan Trunodongso yang turut mempengaruhi kesadaran Minke. Surati adalah anak dari Sastro Kassier adik Nyai Ontosoroh yang dijual ayahnya demi harta dan kuasa untuk menjadi gundik bagi pengusaha pabrik gula, Plikemboh julukannya. Itu seperti kisah hidup Sanikem. Namun Surati melawan. Dia pergi ke sebuah desa yang tengah terserang penyakit cacar yang menular dengan ganas dengan harapan dia juga terkena penyakit menular itu. Surati dengan kebulatan tekad hendak turut menularkan penyakit mematikan itu kepada Plikemboh yang dikenal tidak manusiawi dan kejam. Ya, Surati ingin turut menyeret pemilik modal asing di daerahnya itu dalam kematian. Akhirnya Plikemboh yang akan mempergundik Surati meninggal dunia terserang penyakit yang dibawa Surati. Sementara Surati masih hidup, tetapi wajahnya yang dulu cantik menjadi bopeng karena penyakit itu.

Kekuatan kapital Belanda yang cara kerjanya dijelaskan oleh jurnalis Ter Haar kepada Minke dengan perumpamaan kanker yang menyebar namun sebenarnya lebih kongret dari pada itu. Tentang monster gula yang memiliki kemampuan menyensor pers, menekan pemerintah, dan mengatur ekonomi yang menjadi kekuatan untuk mempengaruhi masyarakat dan mengusik kehidupan dan keberadaan Minke sendiri di Hindia Belanda (hal. 16).

Pertemuan Minke dengan Trunodongso (petani) juga dalam kerangka ekspansi besar-besaran industri gula pada waktu itu. Sebelumnya Minke dikritik secara tajam karena mengagumi ilmu-ilmu barat, akan tetapi tidak mengetahui kehidupan bangsanya sendiri. Minke yang suka menulis dengan bahasa Belanda sebelumnya tidak memiliki keinginan menulis dalam bahasa Melayu yang dianggapnya bahasa murahan, bahasa untuk kelas pinggiran. Tetapi itu berubah ketika dia bertemua dengan Surati dan Trunodongso.

Trunodongso adalah seorang petani yang menolak menjual atau menyewakan tanahnya kepada perusahaan gula. Rumah dan tanah warisan orang tuanya dipertahankan dengan mati-matian dari upaya perampasan secara semena-mena. Perlawanan itu terus berlangsung, hingga rumah dan sepetak ladang pertaniannya dikelilingi ladang tebu yang luasnya ratusan hektar.

Minke berupaya membantu petani kecil yang terus diintimidasi oleh kuasa kapital gula Belanda itu lewat tulisan. Namun liputan tulisan yang dia tulis membentur kuasa pers industri gula. Tulisannya tentang Trunodongso ditolak karena dinilai akan mengancam stabilitas politik perusahaan gula. Realita itu membawa kesadaran Minke tentang pentingnya membangun media di luar cengkeraman kuasa modal.

Pada perkembangannya, Minke banyak belajar dari Khiuw Ah Soe dan Ang Sang Mei, serta dari membaca tentang Jepang dan Fhilipina. Dia menjadi lebih berpikir kritis dengan analisa yang semakin tajam. Minke terinspirasi tentang perlawanan kaum muda Tiongkok, perlawanan rakyat Fhilipina terhadap kolonialisme Spanyol, dan kemajuan pesar bangsa Jepang di Asia Timur.

Gambar: Suasana diskusi MAP Corner Klub MKP pada 19 September 2017 dengan tema “Pramoedya dan Jejak Langkah Indonesia Sebagai Bangsa”

Bangsa yang Dibentuk Melalui Revolusi Sosial

Dalam Novel seri ke tiga Tetralogi Buru yaitu Jejak Langkah, Minke mulai bergelut dengan organisasi politik. Karakter Minke yang terilhami dari seorang penulis, jurnalis, dan pemimpin politik yaitu Tirto Adhi Soerjo (T.A.S.) mendapat kesempatan untuk mengikuti kuliah umum dari Wahidin Soedirohoesodo, seorang dokter senior Jawa di STOVIA. Wahidin menekankan pentingnya berorganisasi bagi kaum muda agar seperti kaum muda Tiongkok, dalam organisasi maka golongan pribumi akan bangun dari tidurnya.

Minke mulai mendirikan organisasi Syarikat Priyayi (SP) setelah duka merundung, yaitu kematian Mei istrinya dan dia dikeluarkan dari sekolah kedokteran STOVIA. SP adalah organisasi yang dibentuk dengan anggota kaum priyayi, wedana, dan temanya waktu sekolah kedokteran. Koran Medan Priyayi juga dibuat sebagai corong organisasi.

Namun tidak berselang lama Syarikat Priyayi mandeg. Meski memiliki ketrampilan-ketrampilan administrasi, namun priyayi adalah kacung bagi kekuasaan kolonial, penghidupannya tergantung pada kolonialisme. Lama kelamaan semangat mereka meloyo karena ketergantungan pada ekonomi dan politik kolonialisme Belanda (hal. 23). Banyak anggota yang vakum dan takut. Konservatisme dan ketakutan mereka berasal dari watak sisa-sisa feodal dan ketergantungan material terhadap gaji yang diberikan Belanda. Artinya kaum priyayi ini telah terintegrasi ke dalam enclave[10] kolonial.

Minke kemudian pernah bergabung dengan organisasi Boedi Oetomo (BO) bersama Raden Soetomo. Akan tetapi tidak berselang lama dia keluar karena perbedaan prinsip. Boedi Oetomo adalah organisasi yang sangat elitis yang berisi orang Jawa kelas atas. Minke tidak mau jatuh ke lubang yang sama paska-kegagalan SP.

Kesadaran politik baru Minke semakin kritis, dia beralih untuk mengorganisir rakyat yang berada di luar enclave kolonial. Maka dibentuk Syarikat Dagang Islam (SDI) pada tahun 1909. Para pedagang ini adalah “orang bebas” yang tidak terikat secara langsung oleh kekuasaan kolonial. SDI kemudian menyebar bagai kebakaran yang tak terkendali di luar enclave kolonial. Tidak hanya melibatkan para pedagang yang besar hingga kecil, tetapi juga kaum tani dan para buruh di perkotaan.

Sebagaimana dijelaskan oleh Max Lane dalam diskusi MAP Corner-Klub MKP UGM pada 19 September 2017, dalam konteks ini Minke dewasa dengan berbagai pengalamannya mulai tampak. Itu berbeda jauh dari Minke yang masih remaja saat usianya 17 tahun.

Perubahan kebudayaan yang paling mendasar sekaligus merupakan bahan pokok dalam jejak langkah adalah mulai munculnya organisasi massa berkeanggotaan sukarela yang secara sadar menjadikan organisasi sebagai alat untuk merubah masyarakat seperti SDI. Di masa-masa sebelumnya keanggotaan sebuah organisasi lebih sering karena dorongan adat atau tradisi, yang mana organisasi-organisasi tersebut berfungsi melancarkan kehidupan desa atau hubungan antara anggota masyarakat dengan struktur kekuasaan (feodal) (hal. 17-18).

Pandangan arus-utama sampai saat ini masih menyebutkan SDI didirikan semata-mata untuk melawan pedagang batik Tionghoa dan melansir bahwa organisasi pertama di Indonesia bukanlah Syarikat Priyayi, akan tetapi justru organisasi Jawa yang sangat feodal, Boedi Oetomo (hal. 153). Dalam novel Tetralogi Buru, Pram menjelaskan hal itu dengan pandangan berbeda.

Dalam Tetralogi Buru, Pram menunjukan bahwa gelombang-gelombang pergerakan, organisasi, pers, media massa, rapat umum, aksi, dan partai adalah landasan sebuah kebudayaan bersama yang baru.

Di dalam halaman-halaman terakhir Jejak Langkah, Minke meyakinkan SDI untuk melaksanakan pekerjaan propaganda jangka panjang. Konferensi SDI memandatkan Minke untuk mengunjungi Singapura, Siam, Malaya, dan Fhilipina – semuanya berada di luar peta Hindia Belanda. Minke akhirnya ditangkap dan kemudian diasingkan sebelum dia berangkat ke Fhilipina. Setelah dibebaskan dari pengasingan, Minke tidak sadar bahwa keadaan di sekitarnya telah berubah. Ia gagap melihat perubahan-perubahan baru. Itu terjadi hingga akhir hayatnya, setelah dia terbunuh.

Dalam Tetralogi Buru, Pram menunjukan bahwa gelombang-gelombang pergerakan, organisasi, pers, media massa, rapat umum, aksi, dan partai adalah landasan sebuah kebudayaan bersama yang baru. Kebudayaan tersebut tidak ada pada masa sebelumnya di tengah keanekaragaman Kepulauan Nusantara. Kebudayaan itu yang menjadi embrio dari apa yang disebuat sebagai bangsa Indonesia. Proses tersebut semakin cepat sejak tahun 1920 yang oleh Takashi Shiraishi disebut sebagai “zaman bergerak”[11].

Kelahiran Indonesia sebagai bangsa dan pembentukan nasionalismenya, tidak seperti apa yang diungkapkan oleh Anderson tentang “komunitas terbayang”[12]. Embrio kebangsaan dan nasionalisme semakin tumbuh membesar tidak melalui “khayalan” di antara rakyat. Proses itu dibentuk dan dibangun melalui pergerakan yang dialami secara nyata. Dalam cita-cita besar revolusi nasional tidak bertumpu pada imajinasi, namun dengan proses saling keterhubungan, pembentukan diskursus, dan pergerakan. Hal itu yang mendorong meluasnya kesadaran politik baru sebagai embrio kebangsaaan dan nasionalisme.

Dalam novel Tetralogi Buru, Pram dengan jeli menunjukan proses pembentukan kesadaran awal dan mulai meluasnya kesadaran politik baru di antara rakyat Kepulauan Nusantara. Proses itu tidak semata didorong oleh perkembangan “kapitalisme cetak” sebagaimana menurut Benedict Anderson[13]. Bahasa Melayu merupakan bahasa yang sama sekali baru pada tahun 1920an. Sementara baca-tulis Melayu hanya dipahami sebagian kecil dari rakyat Nusantara. Kelahiran nasionalisme dipengaruhi oleh meluasnya kesadaran politik baru yang tersebar dengan berbagai aksi massa, rapat akbar atau rapat umum (Vergadering), dan organisasi. Pada tahun 1912 – 1930an, dalam rapat akbar yang dilakukan oleh para tokoh pergerakan nasional seperti Tjokro Aminoto, Haji Misbach, Semaun, hingga Soekarno, ribuan massa berkumpul untuk mendengar pidato atau orasi dari para tokoh tersebut. Pidato dilakukan dalam bahasa Melayu, hal itu yang pada perkembangannya membuat bahasa Melayu menjadi bahasa bagi nasion yang baru saja terbentuk, yaitu “Indonesia”.

Bangsa yang Belum Selesai: Karya Pram & Ingatan Sejarah

Nama “Indonesia” sebagai konsep politik untuk merangkum kesadaran politik baru rakyat dinilai Pram cacat dan anti-histori. Nama Indonesia berarti Kepulauan India yang dipopulerkan oleh etnolog Jerman Adolf Bastian (1826-1905). “Nama India untuk Indonesia sekarang ini berasal dari perburuan rempah-rempah Maluku mulai akhir abad ke 15 oleh bangsa-bangsa Barat yang menyebabkan seluruh dunia non-Barat dijajah oleh Barat, sedang rempah-rempah yang diperebutkan berasal dari Indonesia sekarang ini, tetapi dengan “trade mark” India” ungkap Pram[14]. Bagi Pram, nama “Nusantara” atau “Dipantara” adalah nama yang tepat.

Pramoedya Ananta Toer sebagai manusia biasa tidak dapat menentukan alur sejarah sesuai keinginannya. Walaupun tidak sepakat dengan nama “Indonesia”, dia adalah orang turut berjuang dalam penuntasan proses revolusi nasional Indonesia. Baginya menjadi tidak penting namanya apa, yang terpenting adalah ketika masalah-masalah sosial, ekonomi, dan kebudayaan terselesaikan.

Dalam novel Tetralogi Buru, Pram menunjukan persoalan penting penyelesaian proses revolusi sosial yang sering tidak dipahami oleh para pembaca. Pram menggunakan analisa kelas sosial dalam konteks ini. Di Tetralogi Buru, baik Minke maupun Nyai Ontosoroh pada akhirnya kalah. Minke mati terbunuh, sementara Nyai Ontosoroh menikah dengan orang Prancis dan meninggalkan Nusantara untuk bertempat tinggal di negeri suaminya. Dua karakter utama pembaruan kesadaran ini pada kenyataanya adalah kelas borjuis kecil[15]. Kesadaran Minke adalah kesadaran sebagai pengikut demokrasi borjuis, walaupun kesadaran itu meningkat menjadi kesadaran demokrasi borjuis revolusioner ketika menentang kolonialisme.

Minke dan Nyai Ontosoroh dengan tingkat kesadarannya, tidak memahami adanya momentum baru dengan mulai lahirnya kelas proletar atau marhaen yang revolusioner. Perjuangan mereka kemudian diteruskan oleh orang dan kekuatan lain yang harus bangkit sesudah kekalahan sang pemula. Di Jejak Langkah dan Rumah Kaca digambarkan penerusnya sebagai karakter baru: haji misbach dan juga karakter yang sangat terinspirasi dari penulis dan aktivis kiri yaitu Marko dan Semaun, si komunis buruh kereta api (hal. 29).

Dalam pergulatan intelektual dan aktivismenya, Pram menekankan pada peran penting gerakan yang berbasiskan pada mobilisasi dan partisipasi aktif kaum marhaen. Oleh karena itu dia mendukung kampanye politik Soekarno pada periode 1959 – 1965 untuk meneguhkan kemerdekaan politik, kemandirian ekonomi, dan karakter budaya. Bagi Pram, Indonesia sebagai bangsa dalam menyelesaikan proses revolusi nasional harus menjadi struktur yang baru, yang menentang neo-kolonialisme dan neo-imperialisme (nekolim).

Sebelum revolusi nasional dituntaskan, yakni sebelum bangsa sepenuhnya didirikan dan dikonsolidasikan, kontra-revolusi menyerang sehingga berhasil memukul mundur beberapa capaian gemilang revolusi nasional yang telah diperoleh sampai saat itu[16]. Tahun 1965 adalah titik awal proses kontra-revolusi. Regim Soeharto telah meluluhlantakan kesadaran politk baru rakyat dan menjadikan mereka sebagai massa mengambang (floating mass). Jutaan orang kiri  dari kaum proletar atau marhaen dibunuh, sementara kapasitas rakyat untuk bergerak dan berorganisasi secara aktif di kerangkeng. Revolusi nasional berbalik kebelakang menjadi menghamba pada kuasa modal dan berwujud nekolim. Hasil dari proses kontra-revolusi terus menghegemoni rakyat sampai sekarang ini.

Penutup

Novel berseri Tetralogi Buru adalah puncak pencapaian Pramoedya. Namun jika merujuk karyanya yang lain seperti Arok Dedes, Arus Balik, Drama Mangir adalah usaha intelektual dan estetik kesatuan yang mewakili Nusantara di abad-11 sampai abad-20 (hal. 9). Bagian utama dari setetika tetralogi Buru adalah penciptaan perasaan tergerak yang tak pernah terhenti, dimana individu dan kekuatan sosial tertentu berpadu menggerakan proses itu (hal. 12). Max Lane merasakan perasaan tergerak yang estetik revolusioner hingga memantiknya terjun dalam gelanggang politik dan aktif berjuang dalam organisasi[17].

Dalam novel Tetralogi Buru, Pram menunjukan secara tajam bahwa kelahiran bangsa Indonesia bukan “anggur tua, dalam botol baru” sebagaimana pendapat Clifford Geertz. Akan tetapi adalah sebagai sebuah bangsa yang sama sekali baru, untuk mencapai struktur sosial dan kebudayaan yang baru. Keanekaragaman kebudayaan Kepulauan Nusantara lama beserta tata sosial, nilai, dan normanya tidak berarti disingkirkan. Kebudayaan lama tersebut terserap dan terwariskan berdasarkan keselarasan terhadap struktur bangsa baru yang tengah diperjuangkan.

Pram memang mempermasalahkan nama “Indonesia” sebagai konsep nasion, akan tetapi itu adalah masalah kesekian. Baginya yang utama adalah menyelesaikan proses revolusi nasional yang mulai terbangun pada awal abad 20 atau pada latar novel Tetralogi Buru berlangsung. Novel Bumi Manusia karyanya adalah petunjuk tentang dinamika kelahiran embrio apa yang sekarang disebut sebagai banga Indonesia. Sebuah bangsa yang saat ini belum dituntaskan proses revolusi nasionalnya atau bangsa yang belum selesai. Sehingga dengan jelas menunjukan bahwa, dalam novel Bumi Manusia (dan Tetralogi Buru) Indonesia sebagai bangsa telah hadir di dalamnya. Kesadaran politik baru mulai tumbuh dan itu berbeda sekali dengan kesadaran politik lama di Kepulauan Nusantara.

Saat era Orde baru, sejarah proses terbentuknya Indonesia sebagai bangsa yang sebenarnya telah dihapus dari kesadaran kolektif rakyat. Regim militer Soeharto dengan sengaja memalsukan sejarah dan memukul mundur proses revolusi nasional. Novel-novel Pram menyangkal absensi sejarah versi orba tersebut. Tetralogi Buru memberikan ingatan penting tentang sejarah kebangkitan nasional yang menghadirkan bangsa Indonesia.

Kini, kita dapat melihat para anak muda menggandrungi petikan kata dari Pramoedya Ananta Toer. Sering ditemui mereka memposting kata-kata bijak Pram, mengeditnya menjadi gambar yang menawan, memasangnya sebagai foto profil di media sosial, mencetaknya sebagai poster dan selebaran, hingga menjadikannya kaos yang dipakai saban hari. Diskusi tentang Pram bahkan penuh sesak dihadiri orang-orang yang haus akan ilmu pengetahuan.

Karya-karya Pram memiliki kekuatan yang menggerakan, karakter epik revolusioner, dan keindahan estetika yang unik. Namun kekuatan utama dalam karya Pram akan terdevaluasi ketika hanya membacanya secara sepotong-sepotong, seperti ketika sekedar mengutip kalimat-kalimat di novel Pram untuk menunjukan heroism tertentu. Kekuatan itu akan terasakan tatkala karya Pram dibaca secara utuh.

Jika demikian tunggu apalagi? Sudahkan kalian membaca novel karya Pram? Mari membacanya dan rasakan kekuatan dalam setiap bait kata dan untaian kalimatnya. ***

_______________

[1] Lihat Clifford Geertz, Old Societies, New States (New York: The Free Press, 1963).

[2] Yudi Latif, Negara Paripurna: Historisitas, Rasionalitas, dan Aktualitas Pancasila (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2011).

[3] Lihat Max Lane, Unfinished Nation (Yogyakarta: Penerbit Djaman Baroe, 2014).

[4] Ungkapan Minke dalam Pramoedya Ananta Toer, Bumi Manusia (Jakarta: Lentera Dipantara, 2010), hal. 179.

[5] Pengutipan catatan perut dalam tulisan ini merujuk pada buku Max Lane, Indonesia Tidak Hadir di Bumi Manusia (Yogyakarta: Penerbit Djaman Baroe, 2017).

[6] Perusahaan susu itu secara susah payah di kembangkan selama puluhan tahun oleh Nyai Ontosoroh. Namun, di mata hukum kolonial bagaimanpun Nyai Ontosoroh tidak memiliki hak dari perusahaan itu karena statusnya sebagai istri yang tidak sah (gundik). Dalam hukum kolonial masyarakat pribumi tidak bisa menikah secara syah dengan bangsa Eropa.

[7]Dalam hukum kolonial Belanda, ketika Herman Mellema meninggal, yang berhak merawat Annelies adalah ibu tirinya, istri sah Mellema yang tinggal di negeri Belanda.

[8] Annelies sendiri adalah seorang gadis yang rapuh secara psikologis, karena terlalu dimanja orang tuanya. Bersama ibu Tirinya di Belanda, dia tidak mendapat perhatian. Itu karena ibu tirinya lebih mementingakan harta peninggalan Mellema dibanding Annelies.

[9] Karl Marx & Frederick Engels, “The German Ideology”, dalam Max Lane, Indonesia Tidak Hadir di Bumi Manusia (Yogyakarta: Penerbit Djaman Baroe, 2017), hal. 13.

[10] Enclave adalah suatu unit wilayah, budaya, dan sosial yang berbeda yang bersanding, namun seolah-olah berada di wilayah asing.

[11] Takashi Shiraishi, Zaman Bergerak: Radikalisme Rakyat di Jawa 1912-1926 (Yogyakarta: Grafiti Press)

[12] Benedict Anderson, Imagined Communities: Reflections on the Origin and Spread of Nationalism(London: Verso Editions and NLB, 1983).

[13] Ibid.

[14] Lihat Max Lane, Unfinished Nation.

[15] Minke ketika sekolah di H.B.S. telah menjadi marketing Mebel. Dia kemudian mendirikan percetakan dan mempunyai Hotel. Sementara Nyai Ontosoroh adalah pemilik sekaligus pengelola perusahaan susu bersama Herman Mellema.

[16] Lihat Max Lane, Unfinished Nation.

[17] Disampaikan dalam diskusi MAP Corner-Klub MKP UGM, Pramoedya & Jejak Langkah Indonesia Sebagai Bangsa (Yogyakarta, 19 September 2017).

Tulisan ini merupakan review diskusi MAP Corner-Klub MKP UGM yang diselenggarakan pada 19 September 2017 dengan tema “Pramoedya dan Jejak Langkah Indonesia Sebagai Bangsa”. Selain itu tulisan ini juga merupakan review terhadap buku Max Lane yang berjudul “Indonesia Tidak Hadir di Bumi Manusia” yang diluncurkan bebarengan dengan diskusi tersebut.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s