Gelora Nurani – Arif Novianto

Mencoba mengukir lengkokan tinta-tinta perlawanan untuk menyampaikan segala ketidak-adilan dan memperjuangkan kebenaran

Tag Archives: kemiskinan

Dalih Kemalasan Rakyat: Logika Tanam Paksa (Cultuurstelsel) & Kenaikan BBM

tanam paksa

Doc: Menulis Sejarah

MENCOBA membandingkan tanam paksa dengan kenaikan BBM memang terdengar agak aneh. Namun ada hal yang cukup penting yang melatarbelakangi keduanya, yaitu dalih untuk membuat rakyat tidak lagi malas.

Baru-baru ini menteri ESDM Sudirman Said, mengatakan bahwa harga bahan bakar minyak yang murah menyebabkan masyarakat malas dan enggan keluar dari zona nyaman. “Presiden Jokowi akan melakukan pekerjaan sulit karena membuat masyarakat keluar dari zona nyaman” (Tempo, 02/11/14). Dengan dinaikannya BBM, maka akan membuat rakyat lebih bekerja keras serta keluar dari kemalasannya, begitu logika yang ia pakai sebagai bagian pembenaran kenaikan harga BBM ini.

Nah, logika yang sama juga dipakai oleh Van Den Bosch, ketika dia ditugaskan ke Hindia Belanda sebagai Gubernur Jendral pada 1830, yaitu dengan kebijakan tanam paksa (cultuurstelsel) yang dijalankannya. Bagi Van Den Bosch, kapitalisme menyimpan kontradiksi internal, salah satunya adalah kurangnya kebiasaan kerja keras manusia yang tak dapat diselesaikan dengan mekanisme kekuatan pasar. Kenyataan itulah yang dilihat Van Den Bosch pada masyarakat miskin di Hindia Belanda (Li, 2012).

Read more of this post

Advertisements

Satriya Piningit

semar mbangun kahyangan mangejawantah pitutur pitudug pitulungan punakawan wayang

Doc: Wayang(dot)wordpress(dot)com

Perkara yang tak pernah absen dalam dinamika hiruk pikuk disetiap ajang kontestasi politik di Indonesia sampai sekarang ini adalah pencari-carian terhadap sosok sang Satriyo Piningit. Apalagi bagi masyarakat jawa yang masih memegang nilai-nilai kebudayaan jawanya.

Sosok satriyo piningit kali pertama muncul berdasarkan ramalan (jangka) Jayabaya, Maharaja di Kediri pada 1135-1157 M. Ramalan ini menggambarkan satriyo piningit sebagai orang yang jujur, cerdas dan peduli terhadap sesama.

            Kepercayaan terhadap sosok satriyo piningit ini pasti akan muncul didalam masyarakat yang masih bersifat tradisional dan semakin mekar karena tumpukan rasa kekecewaan terhadap para pemimpin yang ada sekarang. Jurang kemiskinan, penderitaan dan ketidakberdayaan adalah pemicu utama munculnya imaji akan datangnya juru selamat.

Penafsiran siapa satriyo piningit berdasar jangka Jayabaya yang sering muncul selama ini memang lebih mengarah ke urutan presiden Indonesia sampai yang ke-6 yaitu Susilo Bambang Yudhoyono. Namun saya berupaya untuk menafsirkan ramalan Jayabaya tentang satriyo piningit yang berisi tujuh pitutur ini secara berbeda.

Read more of this post

Kemiskinan dan Money Politics

Galamedia Bandung 19 Juni 2014

Doc: Epaper Galamedia Bandung 19 Juni 2014

KEMISKINAN merupakan perma­salahan sistemik yang daya ledak­nya bersifat multidimensional. Ber­bagai tindakan nekat, seperti pencurian, perampokan, penjarahan, dan bentuk-bentuk kriminal lainnya tak dapat dimungkiri salah satu penyebabnya adalah faktor kemis­kin­an (baca: kekurangan). Bahkan akibat dari kemiskinan yang begitu akut, orang nekat mengakhiri hi­dup dengan caranya sendiri.

Dalam kerangka demokrasi elektoral yang berbasis pada sistem perwakilan seperti di Indonesia seka­rang ini, menurut analisis saya ada semacam relasi yang saling meme­ngaruhi antara kemiskinan dan mo­ney politics (politik uang). Ar­ti­nya sejalan maraknya politik tran­saksional dalam bentuk money po­litics seperti yang terlihat dalam Pemilu Legislatif 9 April lalu, mencampakkan pengaruh struktural kemiskinan di masyarakat adalah sebuah kesalahan besar.

Ada beberapa pendekatan yang sering digunakan dalam melihat problematika money politics. Salah satunya dengan pendekat­an buda­ya dan instrumental. Dalam pende­katan berbasis budaya, money politics dimaknai sebagai konsekuensi dari adanya budaya yang berkembang di masyarakat selama ini. Se­perti budaya “ewuh pakewuh” be­rupa perasaan tidak enak ketika ti­dak menerima atau menolak pem­be­­rian orang, yang kemudian ber­lanjut menjadi perasaan tidak enak ketika menerima sesuatu, tapi tidak memberikan timbal balik kepada yang memberi.

Read more of this post

Otonomi Desa dan Laju Urbanisasi

KRJogja 18 Januari 2014 a

Doc: Epaper KR Jogja 18 Januari 2014

Problematika Urbanisasi merupakan masalah dilematis yang dialami oleh kota-kota besar di Indonesia sampai sekarang ini. Dinamika hubungan antara kota dan desa didalam kapitalisme kontenporer telah menciptakan keterkaitan yang timpang terutama di Negara-negara pinggiran seperti Indonesia ini. Kawasan perkotaan didesain menjadi arena produksi berbagai industri, sedangkan kawasan pedesaan didesain tak lebih untuk menjadi sumber pemasok tenaga kerja yang dipekerjakan di kota-kota basis industri tersebut.

Artinya kue-kue yang begitu menggunung diperkotaan telah menarik gairah masyarakat desa untuk menjamahnya serta mengadukan nasib mereka ke kota. Arus urbanisasi ini menemukan titik kulminasinya ketika kehidupan masyarakat pedesaan disatu sisi mengalami pemiskinan struktural. Itu terjadi karena kebijakan-kebijakan yang diambil oleh pemerintah cenderung bias kota, sehingga membuat desa tak lebih sebagai tempat berkumpulnya orang-orang tua yang tak mungkin lagi bergelut dengan kerasnya dunia kerja di kota. Sedangkan para pemudanya pergi merantau untuk mencari sumber penghidupan, karena pertanian sudah tidak dianggap lagi dapat memberikan kehidupan yang layak bagi mereka.

Kemiskinan di Pedesaan

            Kehidupan di pedesaan yang bersifat komunal tak dapat dilepaskan dari dunia pertanian. Pertanian seolah melekat dengan kehidupan masyarakat desa, dari sejak jaman dulu sampai sekarang ini. Namun seiring berjalannya waktu pertanian di Negara agraris ini terus mengalami berbagai kemunduran. Kebijakan revolusi hijau yang digerakan oleh pemerintah pada masa Orde Baru, merupakan awal dari terciptanya proses deagrarianisasi secara terstruktur.

Read more of this post