Gelora Nurani – Arif Novianto

Mencoba mengukir lengkokan tinta-tinta perlawanan untuk menyampaikan segala ketidak-adilan dan memperjuangkan kebenaran

Tag Archives: pati – jawa tengah

Padmi, Bunga Perjuangan yang Gugur di Musim Hujan

Mengapa ada bunga yang gugur di musim hujan?
Mengapa ada air mata saat menyambut keberanian?
Mengapa harus ada duka mengiringi pengorbanan?

(…)sebelum berangkat ikut aksi cor kaki, dia (Padmi – pen) telah menelpon saya dan berkata untuk pamit berjuang membela ibu bumi” ujar Roshad (suami Padmi), lelaki 52 tahun yang berambut ikal dan kulit sawo matang. Tidak tampak sedikitpun kesedihan di raut wajahnya. Matanya berbinar tajam penuh keyakinan, seolah menunjukan, bahwa sang istri yang dicintai tidak pergi dengan sia-sia.

Ibu Padmi gugur untuk membela tanah air dan saya telah mengiklaskan kepergiannya” ungkapnya dengan suara penuh ketegaran.

Read more of this post

Advertisements

Catatan Tentang Sebuah “Kata Pengantar” Skripsi dan Keberpihakan Peneliti

“…Mereka yang mempunyai pengetahuan buku
harus pergi ke kenyataan yang hidup,
supaya bisa maju
dan tidak mati mengeloni buku…

Dipa Nusantara Aidit

“Pernahkah kau tahu sebuah pekerjaan tanpa hakikat? Ataukah kau dapat memetik skripsi dari S.K.R.I.P.S.I?”[1]. Jika anda tahu, itulah hakikat dari mengerjakan skripsi. Setelah sampai pada waktu di mana lonceng berdentangan, anda atau lebih tepatnya saya menyadari memang benar kata seorang kawan bahwa pekerjaan yang baik adalah pekerjaan yang “selesai”. Syukur Alhamdulillah, setelah bergelut dengan teori dan data hampir selama 2 tahun, akhirnya saya dapat menyelesaikan karya skripsi dengan judul “Perlawanan Rakyat: Analisa Kontra-Hegemoni dalam Ekonomi Politik Kebijakan Pembangunan Pabrik Semen di Pati”. Menulis memang proses yang cukup berat dalam menyelesaikan karya yang hadir di hadapan pembaca ini. Seperti kata Harvey bahwa dalam mengerjakan penelitian, 80%-nya adalah menulis dan hanya 20% berpikir. “Menulis adalah aksi seorang diri yang kadang menakutkan” begitu kata Carlos Fuentes. Itu seperti memasuki terowongan tanpa tahu adakah cahaya diujungnya, atau bahkan apakah ujungnya itu memang ada. Hari demi hari saya luangkan untuk menulis karya penelitian ini dan tanpa tahu pada lembar keberapa saya harus memutuskan untuk berhenti. Itu yang saya lakukan selama 2 bulan penuh setelah sebelumnya disibukan dengan berbagai pekerjaan, aktivisme, dan sekaligus penelitian lapangan.

Read more of this post

Caping Pak Jayadi

hutan

Doc: Galeri Rupa Lentera di Atas Bukit

Senja sore itu tak lagi bersenandung

Ia tampak muram dibekap mendhung

Ladang persawahan hilang lenyap

Yang tampak hanyalah lautan baru yang menghadirkan ratap

 

Tangisan pak Jayadi tampak samar dibalik gerimis hujan

Dia tak mampu lagi menjamah pematang sawahnya dengan seonggok tubuh,

Rangkaian debog pisang dijadikan rakit untuk berselancar

Read more of this post

Krisis Kapitalisme & Upaya Perebutan Ruang Hidup Rakyat di Pegunungan Kendeng Utara Pati – Jawa Tengah

24-RageAginstBulldozer-2010

Doc: Nobodycorp Internationale Unltd

Selama kurang lebih 200 tahun, masyarakat Industri Kapitalis telah berkembang melalui berbagai aksi penjarahan dan penghancuran terhadap sumber daya alam yang ada di bumi ini. Imperialisme yang dalam pengertian Lennin merupakan tahap tertinggi dari Kapitalisme telah berhasil menciptakan jalan bagi Kapitalisme ke seluruh penjuru Dunia (Tornquist, 2010: 18). Proses imperialisme yang dilakukan oleh negara-negara barat dengan menjarah Sumber Daya Alam (SDA) dari negeri Jajahan telah membuat ekonomi negaranya seperti sekarang ini. Maka tak salah kalau Mahatma Gandhi mengungkapkan bahwa kalau negeri yang dulu terjajah ingin menyamai ekonomi dari negara barat, maka negeri terjajah ini harus melakukan Imperialisme selama 100 tahun dulu ke negara barat ini.

Salah seorang mahasiswa pertambangan dari Institut Terknologi tertanama di Indonesia pernah mengungkapkan bahwa bumi ini diibaratkan sebagai seekor kambing gemuk, yang kalau dibiarkan pasti akan mati percuma. Begitu pula dengan bumi tandasnya, kalau dibiarkan dan tidak dieksploitasi secara membabi-buta juga pasti akan menjadi hancur sia-sia (Wacana, edisi 26 tahun XXI: 02). Frame berfikir tersebut sangat selaras dengan logika dari kapitalisme kontenporer. Artinya roda produksi harus terus bergerak, ekspansi modal harus terus diputar dan ekploitasi terhadap bahan mentah pun harus terus dilakukan. Ketika proses tersebut berhenti, maka terompet krisis Kapitalisme pun ditiupkan.

Pola produksi dari Kapitalisme yang bersifat anarkis memang telah membuat dunia sedang berada pada titik nadir. Berbagai kelangkaan terhadap bahan-bahan sumber daya alam yang tak terbaharukan seperti minyak, batu bara, logam dan bahan tambang yang lain telah semakin mendekat dikala pola kehidupan tetap seperti ini. Maka para generasi penerus kita pun hanya akan menggigit jari karena tak dapat menikmati manfaat dari sumber-sumber kehidupan yang diciptakan dengan gratis oleh bumi kita ini sebagai akibat keserakahan dibalik selimut kompetisi Kapitalisme. Dan hal yang tak pernah terlepas dari proses moda produksi Kapitalisme selain kerusakan ekologi adalah sebuah proses proletarisasi dengan cara penyingkiran masyarakat terhadap alat-alat produksinya (primitive accumulation), perampasan hak-hak dasar hidup masyarakat yang hasil akhirnya adalah kemiskinan, penderitaan dan penindasan.

Read more of this post