Gelora Nurani – Arif Novianto

Mencoba mengukir lengkokan tinta-tinta perlawanan untuk menyampaikan segala ketidak-adilan dan memperjuangkan kebenaran

Tag Archives: krisis ekonomi

150 Tahun Das Capital & Kebingungan Para Penafsirnya

Saya masih mengingat masa-masa awal di tahun 2010/2011 ketika mulai mengenal Karl Marx dan kemudian memutuskan membaca “Das Kapital”. Sebuah buku yang oleh Engels (sahabat Marx) disebut sebagai “kitab sucinya kelas pekerja”. Sebelum itu, saya terlebih dahulu gandrung terhadap ajaran marhaenisme a la Soekarno. “Marhaenisme adalah marxisme dalam konteks Indonesia” begitu kurang lebih ungkap Soekarno. Marhaenisme dalam hal ini menjadi jembatan yang mengantarkan saya bergelut dengan marxisme.

Sebelum proses tersebut, dalam sebuah diskusi di Sekertariat BEM KM UGM, seorang kawan mengatakan bahwa kesalahan terbesar Marx adalah ketika dia menulis Das Capital. “Buku tersebut telah memberi tahu para kapitalis tentang kesalahan mereka, sehingga mereka dapat berbenah dan mampu bertahan hingga sekarang” ungkap kawan tersebut. Baginya Karl Marx sebagai orang bodoh yang memberi tahu kesalahan musuhnya akan bahaya yang akan dihadapi. Setelah itu si musuh berbenah dan marabahaya bagi si-musuh tidak jadi menimpa berkat anjuran Marx.

Read more of this post

Advertisements

Kemenangan Hollande, Agenda Politik Sosialis dan Masa Depan Sosialisme di Dunia

Abstrak

Kemenangan yang telah diraih oleh Francois Hollande yang diusung oleh Partai Sosialis Perancis (PS) di Pemilihan Umum Presiden Prancis pada mei 2012 lalu, telah memberikan harapan besar tersendiri bagi rakyat Prancis akan datangnya perubahan. Agenda-agenda politik Sosialis yang ditawarkan oleh Hollande ketika masa kampanye membuat pamornya begitu tinggi ditengah badai krisis yang menerpa rakyat. Akan tetapi harapan yang begitu tinggi terhadap sosok Hollande untuk dapat menciptakan perubahan yang besar, sedikit demi sedikit mulai luluh lantak setelah sekitar dua tahun masa kepemimpinannya. Itu terjadi akibat tak pernah terealisasinya agenda-agenda politik sosialis yang ditawarkan oleh Hollande pada masa Kampanye politiknya dan masih tetap kencangnya badai krisis yang menimpa rakyat Prancis. Sedangkan yang terjadi adalah terjebaknya Hollande pada kebijakan-kebijakan kompromis yang lebih bersifat reformis, moderat dan reaksioner. Sehingga pada tulisan ini, penulis berusaha mengelaborasi tentang apa yang menjadi penyebab kegagalan dari Hollande dan para politiksi sosialis lainnya di dalam menjalankan agenda-agenda politik Sosialis yang pernah mereka tawarkan. Dan juga berusaha meramalkan simultannya krisis kapitalis dengan masa depan Sosialisme di dunia.

Keyword: Francois hollande, krisis ekonomi, agenda politik sosialis dan masa depan sosialisme

 

Mozaik Kebijakan PublikPendahuluan

Pada 6 mei 2012 sebuah sejarah baru telah terbentuk di Negara yang terkenal dengan menara Eifelnya yaitu Prancis. Hal tersebut terjadi dikarenakan kemenangan yang berhasil ditorehkan oleh Francois Hollande didalam pemilihan presiden Prancis mei itu. Hollande yang didukung oleh kubu sosialis berhasil menggulingkan incumbent dari kubu konservatif yaitu Nicolas Sarkozy dengan raihan 51,56 persen suara untuk Hollande dan hanya 48,44 persen bagi Sarkozy (Koran Jakarta, 09/05/12).  Kemenangan dari Hollande tersebut juga telah mencatatkan dirinya sebagai presiden kedua dari sayap partai kiri yang pernah memimpin Prancis, setelah pendahulunya yaitu Francois Mitterrand yang memimpin pada periode 1981 sampai 1995.

Read more of this post

Akhir Cerita Iron Lady Bersama Gagasan TINA-nya

Karikatur thatcher kapitalisme neoliberalisme tina krisis ekonomi inggris

Doc: Anti Cap

“There Is Not Alternative”(TINA) mungkin ungkapan tersebut yang begitu dilekatkan dengan sosok Si Wanita Besi (Iron Lady) Margareth Thatcher. Dia merupakan sosok wanita keras yang pernah menahkodai Negara Inggris selama 11 tahunan di bawah panji-panji Partai Konservatif Inggris.

Ungkapan terkenalnya bahwa tidak ada alternatif lain selain kapitalisme dan neoliberalisme di dunia ini, telah menjadi semacam mitos yang terus membayangi berbagai pemerintahan Negara di dunia ini hingga akhir hayatnya kemarin. Yaitu pada Senin, tanggal 8 April 2013 akibat penyakit stroke yang dideritanya.

Tetapi kini mitos TINA tersebut hanya seperti sebuah lelucon kuno yang begitu menggelikan setiap kali diungkapkan. Seperti sebuah lelucon yang digunakan untuk menakuti anak-anak kecil agar mereka tetap tinggal di rumah atau agar anak tersebut tidak berperilaku yang aneh-aneh. Ya itulah yang sekarang terjadi terhadap Mitos TINA yang sudah uzur dan hanya akan membuat orang menggeleng-gelengkan kepala setiap kali mendengarnya.

Itu terjadi karena tidak pernah terbuktinya pandangan TINA tersebut. Gagasannya bahwa tidak alternatif lain selain Kapitalisme dan neoliberalisme yang akan dapat membawa Negara-negara berkembang (merangkak) mengejar Negara Maju (yang sedang berlari kencang) atau bahwa dengan invisible handnya mampu untuk menciptakan distribusi keadilan dan pemerataan yang dimana kemiskinan dan kesengsaraan dapat teratasi didalamnya. Semuanya tidak pernah terwujud. Sedangkan yang terjadi hanyalah semakin terciptanya kesengsaraan, penindasan dan kemiskinan. Yang semakin diperparah akibat krisis dari sistem Kapitalisme yang juga telah terjadi pada tahun 2008nan hingga sekarang ini.

Read more of this post